Jumat, 20 Oktober 2017

ANTIHISTAMIN DAN TURUNANNYA



 

ANTI HISTAMIN

a.      Pengertian antihistamin

Antihistamin merupakan obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamine dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi resptor H1, H2, H3. Efek antihistamin buakan suatu reaksi antigen-antibodi karena tidak dapat menetralkan atau mengubah efek histamine yang sudah terjadi. Antihistamin umumnya tidak dapat mencegah produksi histamin. Antihistamin terutama bekerja dengan menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan resptor khas. Berdasarkan pada reseptor khas antihistamin dibagi menjadi (1) antagonis H1, terutama digunakan untuk pengobatan gejala-gejala akibat reaksi alergi. (2) antagonis H2 digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung pada pengobtan penderita tukak lambung. (3) antagonis H3 sampai sekarng belum digunakan untuk pengobtan, masih dalam penelitian lebih lanjut dan kemungkinan berguna dalam pengaturan system kardiovaskuler.
 
1.       Antagonis H1
Antagonis H1 ini, yang disebut sekarang sebagai generasi pertama atau antihistamin klasik, terkait secara struktural dan mencakup sejumlah eter aminoalkil, etilenadiamina, piperazin, propilamina, fenotiazin dan dibenzosiklohepten. Sering disebut juga antihistamin klasik, adalah senyawa yang dalam kadar rendah dapat menghambat secara bersaing kerja histamine pada jaringan yang mengandung reseptor H1. Digunakan untuk ; alergi, antiemetic, antimabuk, antiparkinson, antibatuk, sedative, antipsikotik, dan anastesi setempat. Contoh obatnya adalah: difenhidramina, loratadina, desloratadina, meclizine, quetiapine (khasiat antihistamin merupakan efek samping dari obat antipsikotik ini), dan prometazina.

Hubungan struktur dan aktifitas antagonis
H1
a)Gugus aril yang bersifat lipofil kemungkinan membentuk ikatan hidrofob dengan ikatan
    reseptor H1.
b) Secara umum untuk mencapai aktivitas optimal, atom pada N pada ujung amin tersier.
c) Kuartenerisasi dari nitrogen rantai samping tidak selalu menghasilkan senyawa yang
    kurang efektif.
d)Rantai alkil antara atom X dan N mempunyai aktifitas antihistamin optimal bila jumlah
    atom C = 2 dan jarak antara pusat cincin aromatic dan N alifatik = 5 -6 A.
e.)Faktor sterik juga mempengaruhi aktifitas antagonis H1
f) Efek antihistamin akan maksimal jika kedua cincin aromatic pada struktur difenhidramin
    tidak terletak pada bidang yang sama

Tabel 1. Penggolongan anthistamin (AH1), dengan masa kerja, bentuk sediaan dan dosisnya

(Ganiswara SG,1995)
 

·         Turunan Eter Amino Alkil
Rumus : Ar(Ar-CH2) CH-O-CH2-CH2-N(CH3)
Antihistamin eter aminoalkil dicirikan oleh adanya bagian penghubung CHO (X) dan dua atau tiga rantai atom karbon sebagai bagian penghubung antara diariil utama dan gugus amino tersier. Clemastine dan diphenylpyraline (lihat struktur di bawah) berbeda dari pola struktur dasar ini dimana bagian nitrogen dasar dan paling tidak sebagian rantai karbon adalah bagian dari sistem cincin heterosiklik, dan ada tiga atom karbon antara atom oksigen dan nitrogen.
Hubungan struktur dan aktifitas
1. Pemasukan gugus Cl, Br dan OCH3 pada posisi pada cincin aromatic akan meningkatkan aktivitas dan menurunkan efek samping.
2. Pemasukan gugus CH3 pada posisi p-cincin aromatic juga dapat meningkatkan aktivitas tetapi pemasukan pada posisi o- akan menghilangkan efek antagonis H1 dan akan meningkatkan aktifitas antikolinergik
3. Senyawa turunan eter aminoalkil mempunyai aktivitas antikolinergik yang cukup bermakna karena mempunyai struktur mirip dengan eter aminoalkohol, suatu senyawa pemblok kolinergik.

·         Turunan Etilendiamin
Rumus umum ; Ar(Ar’)N-CH2-CH2-N(CH3)2

Etilenadiamin termasuk antihistamin pertama yang berguna dan ditandai dengan adanya atom penghubung nitrogen (X) dan dua rantai atom karbon sebagai bagian penghubung antara rujukan utama di amino dan amino tersier seperti yang ditunjukkan di bawah ini. Semua senyawa dalam rangkaian ini adalah diarilethilenadiamina sederhana kecuali antazolin dimana amina terminal dan sebagian rantai karbon dimasukkan sebagai bagian dari sistem cincin imidazolin. Karena berbeda secara signifikan dalam profil farmakologinya, antazolin tidak selalu diklasifikasikan sebagai turunan etilenadiamin.

Hubungan struktur antagonis H1 turunan etilen diamin
1. Tripelnamain HCl, mempunyaiefek antihistamin sebanding dengan dufenhidramin dengan efek samping lebih rendah.
2. Antazolin HCl, mempunyai aktivitas antihistamin lebih rendah dibanding turuan etilendiamin lain.
3. Mebhidrolin nafadisilat, strukturnya mengandung rantai samping amiopropil dalam system heterosiklik karbolin dan bersifat kaku.

·         Turunan Piperazin
Turunan ini memunyai efek antihistamin sedang dengan awal kerja lambat dan masa kerjanya relatif panjang.

Hubungan struktur antagonis H1 turunan piperazin
1.Homoklorsiklizin, mempunyai spectrum kerja luas, merupakan antagonis yang kuat terhadap histamine serta dapat memblok kerja bradkinin dan SRS-a.
2.Hidroksizin, dapat menekan aktivitas tertntu subkortikal system saraf pusat.
3.Oksatomid, merupakan antialergi baru yang efektif terhadap berbagai reaksi alergi, mekanismenya menekan pengeluaran mediator kimia dari sel mast, sehingga dapat menghambat efeknya.

·         Turunan Fenotiazin

Turunan fenotiazin mempunyai struktur kimia karakteristik yaitu sistem trisiklik tidak planar yang bersifat lipofil dan rantai samping alkilamino yang terikat pada atom N tersier pusat cincin yang bersifat hidrofil. Rantai samping tersebut bervariasi dan kebanyakan merupakan salah satu struktur sebagai berikut : propildialkilamino, alkilpiperidil atau alkilpiperazin. Turunan fenotiazin digunakan untuk pengobatan gangguan mental dan emosi yang moderat sampai berat, seperti skizofrenia, paranoia, psikoneurosis (ketegangan dan kecemasan) serta psikosis akut dan kronik.

Daftar Pustaka

Ganiswara SG. Farmakologi dan Terapi edisi 4. Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI; 1995.

Diskusikan!


1) Bagaimana kerja fenotiazin dilihat dari farmakokinetik dan farmakodinamiknya?
2) Bagaimana pemberian dosis yang tepat untuk obat fenotiazin?
3) Bagaimana mekanisme kerja fenotiazin sebagai antihistain?
4.) Bagaimana efek samping dari penggunaan salah satu turunan fenotiazin?

40 komentar:

  1. saya membantu pertanyaan no 1 ya ka
    1. Farmakodinamik
    CPZ mempunyai farmakodinamik yang luas. Beberapa diantaranya ada pada organ-organ antaralain:
    • Susunan saraf pusat: menimbulkan efek sedasi yang disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangsang dari lingkungan. Pada pemakaian lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. CPZ tidak dapat mencegah timbulnya kejang
    • Otot rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot seklet yang berada dalam keadaan spastic. Cara kerja relaksasi diduga bersifat sentral
    • Efek endokrin: CPZ dapat menghambat ovulasi dan menstruasi. Semua fenotiazin kecuali klozapin dapat menimbulkan hiperprolaktinemia lewat efek sentral penghambatan dopamin.
    • Kardiovaskuler: dapat menimbulkan hipotensi berdasarkan beberapa mekanisme diantaranya timbulnya efek inotopik pada jantung
    Farmakokinetik
    Pada umumnya semua fenotiazin diabsorpsi dengan baik bila diberikan peroral maupun parenteral. Penyebarannya luas ke semua jaringan dengan kadar tertinggi di paru-paru dan limfa. Sebagian fenotiazin mengalami hidroksilasi dan konjugasi sebagian lain diubah menjadi sulfoksid yang kemudian diekskresi dalam feses maupun urin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat puput, berdasarkan sumber yang saya baca kerja fenotiazin dilihat dari farmakodinamiknya mempunyai farmakodinamik yang luas seperti yang dijelaskan puput, serta memiliki farmakokinetik : fenotiazin diabsorpsi dengan baik bila diberikan peroral maupun parenteral. Penyebarannya luas ke semua jaringan dengan kadar tertinggi di paru-paru dan limfa. Sebagian fenotiazin mengalami hidroksilasi dan konjugasi sebagian lain diubah menjadi sulfoksid yang kemudian diekskresi dalam feses maupun urin.

      Hapus
  2. Saya akan membantu menjawab pertanyaan no 3
    mekanisme kerja fenotiazin sebagai antihistamin yaitu:
    Mengeblok kerja histamin pada reseptornya. Berkompetisi dengan histamin untuk mengikat reseptor yang masih kosong. Jika histamin sudah terikat, antihistamin tidak bisa memindahkan histamin. Pengikatan AH1 mencegah efek merugikan akibat stimulasi histamin seperti vasodilatasi, peningkatan sekret gastrointestinal dan respirasi serta peningkatan permeabilitas kapiler. Interaksi histamin dengan reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vascular dan meningkatkan sekresi mucus. Interaksi dengan reseptor H1 juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini diblok oleh antagonis H1.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan jawaban risma kalau secara singktnya, fenotiazin ini berkompetisi dengaan histamin untuk mengikat reseptor yang masih kosong

      Hapus
    2. saya juga sependapat, dimana fenotiazin tergolong dalam anti histamin H1, sehingga efeknya sama seperti AH1 lainnya yaitu kompetitif terhadap histamin pada resptor H1

      Hapus
    3. Sayansetuju dengan pendapat semuanya, katena antihistamin h1 bekerja secara kompetitif terhadap histamin pada reseptor h1

      Hapus
  3. Haiii sepertinya saya bisa bantu jawab pertanyaan nmr 4
    Efek samping dari turunan fenotiazin salah satunya chlorpromazin. obat ini mempunyai banyak ES yaitu Berkedut atau gerakan tak terkendali dari mata, bibir, lidah, wajah, lengan, atau kaki, Tremor (gemetar tak terkendali), air liur, kesulitan menelan, masalah dengan keseimbangan atau berjalan, Merasa gelisah, Perasaan seperti Anda akan pingsan, Kejang (blackout atau kejang), Mual sakit perut bagian atas, gatal, dan penyakit kuning (menguningnya kulit atau mata), Kulit pucat, mudah memar atau pendarahan, demam, sakit tenggorokan, gejala flu, Demam tinggi, otot kaku, kebingungan, berkeringat, detak jantung cepat atau tidak rata, napas cepat, Pikiran atau perilaku yang tidak biasa, Penurunan penglihatan malam, tunnel vision, mata berair, peningkatan kepekaan terhadap cahaya, Kencing lebih sedikit dari biasanya atau tidak sama sekali, Nyeri sendi atau bengkak dengan demam, kelenjar bengkak, nyeri otot, nyeri dada, muntah, dan warna kulit merata, Denyut jantung lambat, denyut nadi lemah, pingsan, napas lambat (pernapasan mungkin berhenti)

    BalasHapus
  4. hai tata..
    saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 4 dimana saya mengambil 1 obat sebagai contoh dan efek sampingnya yaitu adalah
    Mebhidrolin
    Indikasi: Antihistamin/Alergi
    Kontraindikasi: Hipertropi prostat, glaukoma, dan serangan asma
    Efek samping: Mengantuk, tremor, mulut kering, lelah, dan reaksi hipersensitif pada kulit.
    Interaksi: Obat depresan sistem saraf pusat, alkohol, dan obat golongan antikolinergik akan meningkatkan daya kerjanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai nola, efek samping turunan fenotiazin loratadin adalah lelah, sakit kepala, somnolensia,. Mulut kering, gangguan pencernaan nausea, gastritis, dan alergi yang menyerupai ruam

      Hapus
    2. Sy ingin menambahkan ES yg sering timbul biasanya mengantuk

      Hapus
  5. pertanyaan no 2
    salah satu dosis turunan fenotiazin misalnya chlorpromazin HCl memiliki dosis: 500 mcg/kg bb tiap 6-8jam (15 tahun max 40 mg/hari, 6-12 tahun max 75 mg/hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih yoan, apakah dalam pemakaiannya digunakan setelah makan atau sesudah makan? Adakah interaksi antara obat dan makanan?

      Hapus
    2. saya ingin menambahkan, oral : 10-25 mg, tiap 4-6 jam. ANAK 500 mcg/kg bb tiap 4-6 jam; 15 tahun maksimal 40 mg/hari, 6-12 tahun maksimal 75 mg/hari.Injeksi intramuskular dalam: dosis awal 25 mg, kemudian 25-50 mg tiap 3-4 jam sampai muntah berhenti. ANAK: 500 mcg/kg bb tiap 6-8 jam (15 tahun maksimal 40 mg/hari, 6-12 tahun maksimal 75 mg/hari).

      Hapus
    3. saya akan menegaskan jawaban rela sonia, dosis yang disebutkan diatas adalah dosis untuk golongan fenotiazin yaitu klorpromazin hidroklorid.
      untuk dosis golongan fenotiazin yg lain yaitu perfenazin adalah sbg berikut
      4 mg, 3 kali/hari, sesuaikan dengan respons. maksimal 24 mg/hari. LANSIA: seperempat sampai setengah dosis dewasa. ANAK di bawah 14 tahun tidak dianjurkan.

      Hapus
    4. saya ingin membantu menjawab pertanyaan tata, jadi obat fenotiazine dapat digunakan dengan atau tanpa makanan, biasanya sekali atau dua kali sehari sesuai anjuran dokter

      Hapus
  6. Bagaimana efek samping dari penggunaan salah satu turunan fenotiazin?

    Salah satu contoh turunan fenotiazin adalah Promethazine dan efek samping dari obat ini yaitu efek sedasi (penenang). Turunan fenotiazin lainnya dapat menyebabkan kantuk dan karenanya dapat mengganggu kemampuan untuk melakukan tugas yang memerlukan kewaspadaan dalam beraktivitas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Efek sedasinya dihasilkan ketika salah satu turunan fenotiazin berikatan dengan reseptor dopamin, menghambat dpamin berikatan dengan reseptornya sehingga kadar dopamin bebas banyak didalam sirkulasi dan menimbulkan efek sedasi

      Hapus
  7. Pertanyaan no.3
    Antihistamin atau penghambat H1, bersaing dengan histamin untuk menduduki reseptor, sehingga menghambat respon histamin. Penghambatan H1 disebut juga antagonis histamin. ada 2 tipe reseptor histamin, H1 dan H2, keduanya menyebabkan respon yang berbeda. Bila H1 dirangsang, otot-otot polos ekstravaskuler, termasuk otot-otot yang melapisi rongga hidung akan berkontriksi. Pada perangsangan H2 terjadi peningkatan sekresi gastrik, yang menyebabkan terjadinya tukak lambung.
    Antagonis H1 biasanya diabsorbsi dengan baik di saluran cerna. Setelah pemberian oral, kadar puncak plasma dicapai dalam 2-3 jam dan efeknya berakhir 4-6 jam. Walaupun demikian ada beberapa obat yang kerjanya lebih lama, misalnya klemastin, setirizin, terfenadin (12-24 jam), sedangkan astemizol 24 jam. Penelitian yang intensif pada obat pertama terbatas. Defenhidramin yang diberikan per oral mencapai kadar maksimum dalam darah kurang lebih 2 jam dengan waktu paruh 4 jam. Distribusi obat ini luas, termasuk di SSP dan dalam jumlah kecil dijumpai di dalam urine dengan bentuk metabolit. Eliminasi obat ini cepat pada anak dan dapat menginduksi enzim mikrosomal hepatik. Hal ini juga tampaknya sama pada obat generasi I lainnya. Sementara itu, obat generasi II, seperti astemizol, terfenadin, dan loratadin diabsorbsi secara cepat disaluran cerna dan dimetabolisme didalam hati melalui sistem mikrosomal hepatik P450.
    DAFTAR PUSTAKA


    Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

    BalasHapus
  8. pertanyaan no 3
    Obat anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis). Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.

    BalasHapus
  9. menurut saya farmakodinamik dan farmakokinetika fenotiazin yaitu :
    Farmakodinamik : Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ (largactill) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata large action. Sususan Saraf Pusat : CPZ menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emisinal penderita sebelum minum obat. Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat, atau klordiazepoksid. Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal ).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada chemo reseptor trigger zone. Muntah disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler.fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunanya pada pasien epilepsi harus berhati-hati. Otot Rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada daam keadaan spastik. Cara kerjanya relaksasi ini diduga bersifat sentral, sebab sambungan saraf otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ.
    Farmakokinetik:
    Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalami metabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35% sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg). Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir.

    BalasHapus
  10. 3. Fenotiaxin termasuk kedalam antihistamin tipe 1 (AH1) yang memiliki mekanisme kerja:
    Antihistamin tipe H1 bekerja dengan cara competitif inhibitor terhadap histamin pada reseptor jaringan, sehingga mencegah histamin berikatan serta mengaktivasi reseptornya. (Fitzpatrick, Wolverton, Katzung Arndt) Ikatannya reversibel dan dapat digantikan oleh histamin dalam kadar yang tinggi. (Fitzpatrick, Katzung). Dengan menghambat kerja dari histamin, terjadi berbagai pengaruh yang ditimbulkan antihistamin, yaitu menghambat peningkatan permeabilitas kapiler dan edema yang disebabkan oleh histamin serta menghambat vasokonstriksi. Obat ini lebih efektif jika diberikan sebelum pelepasan histamin. Pada pemberian awal, antihistamin dapat mencegah edema dan pruritus selama reaksi hipersensitivitas, sehingga banyak keuntungan yang didapat jika digunakan untuk pencegahan urtikaria kronik idiopatik.Wilkin Antihistamin tipe H1 klasik ini juga memiliki aktivitas antikolinergik, efek anestesi lokal, antiemetik, dan anti mabuk perjalanan.(Fitzpatrick, Goodman and Gillman) Beberapa antihistamin tipe H1 mempunyai kemampuan untuk menghambat reseptor α-adrenergik atau reseptor muskarinik kolinergik, sedangkan obat lain mempunyai efek antiserotonin. (Fitzpatrick)

    BalasHapus
  11. 3. Fenotiazin merupakan obat AH yang mempunyai efek antipsikotik dengan mempengaruhi mekanisme dopaminergik, yaitu dengan bekerja sebagai antagonis pada reseptor dopamin, memblok dopamin seingga tidak dapat berinteraksi dengan reseptor. Pemblokan tersebut terjadi pada pra dan postsinaptik reseptor dopamin sehingga kadar dopamin dalam tubuh meningkat dan menyebabkan terjadinya terjadinya efek antipsikotik.

    BalasHapus
  12. nmr 3

    Obat anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis). Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.

    BalasHapus
  13. no 2
    salah satu dosis turunan fenotiazin misalnya chlorpromazin HCl memiliki dosis: 500 mcg/kg bb tiap 6-8jam (15 tahun max 40 mg/hari, 6-12 tahun max 75 mg/hari

    BalasHapus
  14. saya akan mencoba menjawab soal no. 2
    a. Prometazin HCl, (Camergan, Phenergan, Prome), dosis : 25 mg 3dd, 2% (krim)
    b. Metdilazin HCl (Tacaryl), dosis : 8 mg 3 dd
    c. Mekuitazin (Meviran), dosis : 5 mg 2 dd
    d. Oksomemazin (Doxergan), dosis : 10 mg 1-4 dd
    e. Isotipendil HCl (Andatol), dosis : 12 mg 2-3 dd, 1% (jeli)
    f. Pizotifen hidrogen fumarat, dosis : 0,5 mg 1 dd

    BalasHapus
  15. Saya membantu menjawab soal no 2

    1.jadi obat fenotiazine dapat digunakan dengan atau tanpa makanan, biasanya sekali atau dua kali sehari sesuai anjuran dokter

    BalasHapus
  16. saya akan menambahkan jawaban no 3

    Mekanisme Fenotiazin sebagai AGP 1
    Fenotiazin termasuk ke dalam Antipsikotik Generasi Pertama (AGP 1)
    Kerja APG 1 menurunkan hiperaktivitas dopamine di jalur mesolimbik sehingga menyebabkan gejala positif menurun tetapi ternyata APG 1 tidak hanya memblok reseptor D2 di mesolimbik tetapi ternyata APG 1 tidak hanya memblok reseptor D2 di mesolimbik tetapi juga memblok reseptor D2 di tempat lain seperti di mesokortikal, nigrostriatal, dan tuberofundibular. APG 1 memblok reseptor D2 di jalur mesokortikal dapat memperberat gejala negatif dan kognitif disebabkan penurunan dopamine di jalur tersebut. Blockade reseptor D2 di nigrostiatal secara kronik dengan menggunakan APG 1 menyebabkan gangguan pergerakan hiperkinetik. Blockade reseptor D2 di tuberoinfudibular menyebabkan disfungsi seksual dan peningkatan berat badan

    BalasHapus
  17. saya akan menambahkan Efek samping dari turunan fenotiazin salah satunya chlorpromazin. obat ini mempunyai banyak ES yaitu Berkedut atau gerakan tak terkendali dari mata, bibir, lidah, wajah, lengan, atau kaki, Tremor (gemetar tak terkendali), air liur, kesulitan menelan, masalah dengan keseimbangan atau berjalan, Merasa gelisah, Perasaan seperti Anda akan pingsan, Kejang (blackout atau kejang), Mual sakit perut bagian atas, gatal,

    BalasHapus
  18. saya akan menjawab pertanyaan no 2.
    salahsatu obat golongan fenotiazin adalah flufenazin adapun dosis yang baik untuk golongan obat ini adalah :
    Standar dosis psikosis Oral: Dosis awal: 0.5 sampai 10 mg/hari secara oral dalam dosis terbagi setiap 6 sampai 8 jam.
    Parenteral: Dosis awal: 2.5 sampai 10 mg/hari IM dibagi setiap 6 sampai 8 jam (2.5 mg/mL).

    BalasHapus
  19. 4. efek samping cpz: Berat badan bertambah, bengkak di tangan atau kaki.
    Mulut kering atau hidung tersumbat, penglihatan kabur.

    BalasHapus
  20. Saya akan membantu menjawab pertanyaan no 3
    mekanisme kerja fenotiazin sebagai antihistamin yaitu:
    Mengeblok kerja histamin pada reseptornya. Berkompetisi dengan histamin untuk mengikat reseptor yang masih kosong. Jika histamin sudah terikat, antihistamin tidak bisa memindahkan histamin. Pengikatan AH1 mencegah efek merugikan akibat stimulasi histamin seperti vasodilatasi, peningkatan sekret gastrointestinal dan respirasi serta peningkatan permeabilitas kapiler. Interaksi histamin dengan reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vascular dan meningkatkan sekresi mucus. Interaksi dengan reseptor H1 juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini diblok oleh antagonis H1.

    BalasHapus
  21. hai tata, saya akan membantu menjawab pertanyaan no 4. menurut sumber yang baca, beberapa efek samping dari turunan fenotiazin adalah hipotensi, ikterus, dermatitis dan leukopenia. Reaksi ini disertai eosinofilia dalam darah perifer.

    BalasHapus
  22. Fenotiazin
    Farmakodinamik : Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ (largactill) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata large action. Sususan Saraf Pusat : CPZ menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emisinal penderita sebelum minum obat. Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat, atau klordiazepoksid. Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal ).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada chemo reseptor trigger zone. Muntah disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler.fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunanya pada pasien epilepsi harus berhati-hati. Otot Rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada daam keadaan spastik. Cara kerjanya relaksasi ini diduga bersifat sentral, sebab sambungan saraf otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ.
    Farmakokinetik:
    Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalamimetabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35%sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg).Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir.
    Mekanisme kerja:
    Obat anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis). Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.

    BalasHapus
  23. 4. salah satu efek samping antihistamin (fenotiazin )adalah mengantuk,

    BalasHapus
  24. efek samping
    lelah, sakit kepala, somnolensia,. Mulut kering, gangguan pencernaan nausea, gastritis, dan alergi

    BalasHapus
  25. pertanyaan no 2
    salah satu dosis turunan fenotiazin misalnya chlorpromazin HCl memiliki dosis: 500 mcg/kg bb tiap 6-8jam (15 tahun max 40 mg/hari, 6-12 tahun max 75 mg/hari

    BalasHapus
  26. menurut saya efek dari fenotiazin menyebabkan reaksi distonia akut yang meliputi spasme otot fasial dan skeletal serta krisis okulogirik. Efek ini lebih lazim terjadi pada usia muda (wanita muda dan remaja putri) serta lansia.

    BalasHapus
  27. Mengeblok kerja histamin pada reseptornya. Berkompetisi dengan histamin untuk mengikat reseptor yang masih kosong. Jika histamin sudah terikat, antihistamin tidak bisa memindahkan histamin. Pengikatan AH1 mencegah efek merugikan akibat stimulasi histamin seperti vasodilatasi, peningkatan sekret gastrointestinal dan respirasi serta peningkatan permeabilitas kapiler. Interaksi histamin dengan reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vascular dan meningkatkan sekresi mucus. Interaksi dengan reseptor H1 juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini diblok oleh antagonis H1.

    BalasHapus
    Balasan
    1. penjelasan yang bagus, bahwa interaksi histamin dgn reseptor dpt menimbulkan kontraksi otot, hal ini sesuai dgn literatur yg saya baca

      Hapus
  28. Farmakodinamik : Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ (largactill) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata large action. Sususan Saraf Pusat : CPZ menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emisinal penderita sebelum minum obat. Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat, atau klordiazepoksid. Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal ).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada chemo reseptor trigger zone. Muntah disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler.fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunanya pada pasien epilepsi harus berhati-hati. Otot Rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada daam keadaan spastik. Cara kerjanya relaksasi ini diduga bersifat sentral, sebab sambungan saraf otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ.
    Farmakokinetik:
    Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalamimetabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35%sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg).Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir.
    Mekanisme kerja:
    Obat anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis). Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.

    BalasHapus