ANTI HISTAMIN
a.
Pengertian antihistamin
Antihistamin merupakan obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamine dalam tubuh
melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi resptor H1, H2, H3. Efek
antihistamin buakan suatu reaksi antigen-antibodi karena tidak dapat
menetralkan atau mengubah efek histamine yang sudah terjadi. Antihistamin
umumnya tidak dapat mencegah produksi histamin. Antihistamin terutama bekerja
dengan menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan resptor khas.
Berdasarkan pada reseptor khas antihistamin dibagi menjadi (1) antagonis H1,
terutama digunakan untuk pengobatan gejala-gejala akibat reaksi alergi. (2)
antagonis H2 digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung pada pengobtan
penderita tukak lambung. (3) antagonis H3 sampai sekarng belum digunakan untuk
pengobtan, masih dalam penelitian lebih lanjut dan kemungkinan berguna dalam pengaturan
system kardiovaskuler.
1.
Antagonis H1
Antagonis H1 ini, yang disebut
sekarang sebagai generasi pertama atau antihistamin klasik, terkait secara
struktural dan mencakup sejumlah eter aminoalkil, etilenadiamina, piperazin,
propilamina, fenotiazin dan dibenzosiklohepten. Sering disebut juga
antihistamin klasik, adalah senyawa yang dalam kadar rendah dapat menghambat
secara bersaing kerja histamine pada jaringan yang mengandung reseptor H1.
Digunakan untuk ; alergi, antiemetic, antimabuk, antiparkinson, antibatuk,
sedative, antipsikotik, dan anastesi setempat. Contoh
obatnya adalah: difenhidramina, loratadina, desloratadina, meclizine,
quetiapine (khasiat antihistamin merupakan efek samping dari obat antipsikotik
ini), dan prometazina.
Hubungan struktur dan aktifitas antagonis H1
a)Gugus aril yang bersifat
lipofil kemungkinan membentuk ikatan hidrofob dengan ikatan
reseptor H1.
b) Secara umum untuk mencapai
aktivitas optimal, atom pada N pada ujung amin tersier.
c) Kuartenerisasi dari nitrogen
rantai samping tidak selalu menghasilkan senyawa yang
kurang efektif.
d)Rantai alkil antara atom X dan
N mempunyai aktifitas antihistamin optimal bila jumlah
atom C = 2 dan jarak antara pusat cincin aromatic dan
N alifatik = 5 -6 A.
e.)Faktor sterik
juga mempengaruhi aktifitas antagonis H1
f) Efek
antihistamin akan maksimal jika kedua cincin aromatic pada struktur
difenhidramin
tidak terletak pada bidang yang sama
Tabel 1.
Penggolongan anthistamin (AH1), dengan
masa kerja, bentuk sediaan dan dosisnya
(Ganiswara
SG,1995)
·
Turunan Eter Amino Alkil
Rumus : Ar(Ar-CH2) CH-O-CH2-CH2-N(CH3)
Rumus : Ar(Ar-CH2) CH-O-CH2-CH2-N(CH3)
Antihistamin
eter aminoalkil dicirikan oleh adanya bagian penghubung CHO (X) dan dua atau
tiga rantai atom karbon sebagai bagian penghubung antara diariil utama dan
gugus amino tersier. Clemastine dan diphenylpyraline (lihat struktur di bawah)
berbeda dari pola struktur dasar ini dimana bagian nitrogen dasar dan paling
tidak sebagian rantai karbon adalah bagian dari sistem cincin heterosiklik, dan
ada tiga atom karbon antara atom oksigen dan nitrogen.
Hubungan struktur dan aktifitas
1. Pemasukan gugus Cl, Br dan OCH3 pada posisi pada cincin
aromatic akan meningkatkan aktivitas dan menurunkan efek samping.
2. Pemasukan gugus CH3 pada posisi p-cincin aromatic juga dapat
meningkatkan aktivitas tetapi pemasukan pada posisi o- akan menghilangkan efek
antagonis H1 dan akan meningkatkan aktifitas antikolinergik
3. Senyawa
turunan eter aminoalkil mempunyai aktivitas antikolinergik yang cukup bermakna
karena mempunyai struktur mirip dengan eter aminoalkohol, suatu senyawa pemblok
kolinergik.
·
Turunan Etilendiamin
Rumus umum ; Ar(Ar’)N-CH2-CH2-N(CH3)2
Etilenadiamin termasuk antihistamin pertama yang berguna dan ditandai
dengan adanya atom penghubung nitrogen (X) dan dua rantai atom karbon sebagai
bagian penghubung antara rujukan utama di amino dan amino tersier seperti yang
ditunjukkan di bawah ini. Semua senyawa dalam rangkaian ini adalah
diarilethilenadiamina sederhana kecuali antazolin dimana amina terminal dan
sebagian rantai karbon dimasukkan sebagai bagian dari sistem cincin imidazolin.
Karena berbeda secara signifikan dalam profil farmakologinya, antazolin tidak
selalu diklasifikasikan sebagai turunan etilenadiamin.
Hubungan struktur antagonis H1 turunan etilen diamin
1. Tripelnamain HCl, mempunyaiefek antihistamin sebanding dengan
dufenhidramin dengan efek samping lebih rendah.
2. Antazolin HCl, mempunyai aktivitas antihistamin lebih rendah dibanding
turuan etilendiamin lain.
3. Mebhidrolin nafadisilat, strukturnya mengandung rantai samping
amiopropil dalam system heterosiklik karbolin dan bersifat kaku.
·
Turunan Piperazin
Turunan ini memunyai efek
antihistamin sedang dengan awal kerja lambat dan masa kerjanya relatif panjang.
Hubungan struktur antagonis H1 turunan piperazin
1.Homoklorsiklizin, mempunyai spectrum kerja luas, merupakan antagonis yang
kuat terhadap histamine serta dapat memblok kerja bradkinin dan SRS-a.
2.Hidroksizin, dapat menekan aktivitas tertntu subkortikal system saraf
pusat.
3.Oksatomid, merupakan antialergi baru yang efektif terhadap berbagai reaksi
alergi, mekanismenya menekan pengeluaran mediator kimia dari sel mast, sehingga
dapat menghambat efeknya.
·
Turunan Fenotiazin
Turunan fenotiazin mempunyai
struktur kimia karakteristik yaitu sistem trisiklik tidak planar
yang bersifat lipofil dan rantai samping alkilamino yang terikat pada atom N
tersier pusat cincin yang bersifat hidrofil. Rantai samping tersebut bervariasi
dan kebanyakan merupakan salah satu struktur sebagai berikut :
propildialkilamino, alkilpiperidil atau alkilpiperazin. Turunan fenotiazin
digunakan untuk pengobatan gangguan mental dan emosi yang moderat sampai berat,
seperti skizofrenia, paranoia, psikoneurosis (ketegangan dan kecemasan) serta
psikosis akut dan kronik.
Daftar Pustaka
Ganiswara
SG. Farmakologi dan Terapi edisi 4. Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI; 1995.
Diskusikan!
1) Bagaimana
kerja fenotiazin dilihat dari farmakokinetik dan farmakodinamiknya?
2) Bagaimana pemberian dosis yang tepat untuk obat fenotiazin?
2) Bagaimana pemberian dosis yang tepat untuk obat fenotiazin?
3) Bagaimana
mekanisme kerja fenotiazin sebagai antihistain?
4.)
Bagaimana efek samping dari penggunaan salah satu turunan fenotiazin?
saya membantu pertanyaan no 1 ya ka
BalasHapus1. Farmakodinamik
CPZ mempunyai farmakodinamik yang luas. Beberapa diantaranya ada pada organ-organ antaralain:
• Susunan saraf pusat: menimbulkan efek sedasi yang disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangsang dari lingkungan. Pada pemakaian lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. CPZ tidak dapat mencegah timbulnya kejang
• Otot rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot seklet yang berada dalam keadaan spastic. Cara kerja relaksasi diduga bersifat sentral
• Efek endokrin: CPZ dapat menghambat ovulasi dan menstruasi. Semua fenotiazin kecuali klozapin dapat menimbulkan hiperprolaktinemia lewat efek sentral penghambatan dopamin.
• Kardiovaskuler: dapat menimbulkan hipotensi berdasarkan beberapa mekanisme diantaranya timbulnya efek inotopik pada jantung
Farmakokinetik
Pada umumnya semua fenotiazin diabsorpsi dengan baik bila diberikan peroral maupun parenteral. Penyebarannya luas ke semua jaringan dengan kadar tertinggi di paru-paru dan limfa. Sebagian fenotiazin mengalami hidroksilasi dan konjugasi sebagian lain diubah menjadi sulfoksid yang kemudian diekskresi dalam feses maupun urin.
saya setuju dengan pendapat puput, berdasarkan sumber yang saya baca kerja fenotiazin dilihat dari farmakodinamiknya mempunyai farmakodinamik yang luas seperti yang dijelaskan puput, serta memiliki farmakokinetik : fenotiazin diabsorpsi dengan baik bila diberikan peroral maupun parenteral. Penyebarannya luas ke semua jaringan dengan kadar tertinggi di paru-paru dan limfa. Sebagian fenotiazin mengalami hidroksilasi dan konjugasi sebagian lain diubah menjadi sulfoksid yang kemudian diekskresi dalam feses maupun urin.
HapusSaya akan membantu menjawab pertanyaan no 3
BalasHapusmekanisme kerja fenotiazin sebagai antihistamin yaitu:
Mengeblok kerja histamin pada reseptornya. Berkompetisi dengan histamin untuk mengikat reseptor yang masih kosong. Jika histamin sudah terikat, antihistamin tidak bisa memindahkan histamin. Pengikatan AH1 mencegah efek merugikan akibat stimulasi histamin seperti vasodilatasi, peningkatan sekret gastrointestinal dan respirasi serta peningkatan permeabilitas kapiler. Interaksi histamin dengan reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vascular dan meningkatkan sekresi mucus. Interaksi dengan reseptor H1 juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini diblok oleh antagonis H1.
saya setuju dengan jawaban risma kalau secara singktnya, fenotiazin ini berkompetisi dengaan histamin untuk mengikat reseptor yang masih kosong
Hapussaya juga sependapat, dimana fenotiazin tergolong dalam anti histamin H1, sehingga efeknya sama seperti AH1 lainnya yaitu kompetitif terhadap histamin pada resptor H1
HapusSayansetuju dengan pendapat semuanya, katena antihistamin h1 bekerja secara kompetitif terhadap histamin pada reseptor h1
HapusHaiii sepertinya saya bisa bantu jawab pertanyaan nmr 4
BalasHapusEfek samping dari turunan fenotiazin salah satunya chlorpromazin. obat ini mempunyai banyak ES yaitu Berkedut atau gerakan tak terkendali dari mata, bibir, lidah, wajah, lengan, atau kaki, Tremor (gemetar tak terkendali), air liur, kesulitan menelan, masalah dengan keseimbangan atau berjalan, Merasa gelisah, Perasaan seperti Anda akan pingsan, Kejang (blackout atau kejang), Mual sakit perut bagian atas, gatal, dan penyakit kuning (menguningnya kulit atau mata), Kulit pucat, mudah memar atau pendarahan, demam, sakit tenggorokan, gejala flu, Demam tinggi, otot kaku, kebingungan, berkeringat, detak jantung cepat atau tidak rata, napas cepat, Pikiran atau perilaku yang tidak biasa, Penurunan penglihatan malam, tunnel vision, mata berair, peningkatan kepekaan terhadap cahaya, Kencing lebih sedikit dari biasanya atau tidak sama sekali, Nyeri sendi atau bengkak dengan demam, kelenjar bengkak, nyeri otot, nyeri dada, muntah, dan warna kulit merata, Denyut jantung lambat, denyut nadi lemah, pingsan, napas lambat (pernapasan mungkin berhenti)
hai tata..
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan no 4 dimana saya mengambil 1 obat sebagai contoh dan efek sampingnya yaitu adalah
Mebhidrolin
Indikasi: Antihistamin/Alergi
Kontraindikasi: Hipertropi prostat, glaukoma, dan serangan asma
Efek samping: Mengantuk, tremor, mulut kering, lelah, dan reaksi hipersensitif pada kulit.
Interaksi: Obat depresan sistem saraf pusat, alkohol, dan obat golongan antikolinergik akan meningkatkan daya kerjanya.
Hai nola, efek samping turunan fenotiazin loratadin adalah lelah, sakit kepala, somnolensia,. Mulut kering, gangguan pencernaan nausea, gastritis, dan alergi yang menyerupai ruam
HapusSy ingin menambahkan ES yg sering timbul biasanya mengantuk
Hapuspertanyaan no 2
BalasHapussalah satu dosis turunan fenotiazin misalnya chlorpromazin HCl memiliki dosis: 500 mcg/kg bb tiap 6-8jam (15 tahun max 40 mg/hari, 6-12 tahun max 75 mg/hari
Terimakasih yoan, apakah dalam pemakaiannya digunakan setelah makan atau sesudah makan? Adakah interaksi antara obat dan makanan?
Hapussaya ingin menambahkan, oral : 10-25 mg, tiap 4-6 jam. ANAK 500 mcg/kg bb tiap 4-6 jam; 15 tahun maksimal 40 mg/hari, 6-12 tahun maksimal 75 mg/hari.Injeksi intramuskular dalam: dosis awal 25 mg, kemudian 25-50 mg tiap 3-4 jam sampai muntah berhenti. ANAK: 500 mcg/kg bb tiap 6-8 jam (15 tahun maksimal 40 mg/hari, 6-12 tahun maksimal 75 mg/hari).
Hapussaya akan menegaskan jawaban rela sonia, dosis yang disebutkan diatas adalah dosis untuk golongan fenotiazin yaitu klorpromazin hidroklorid.
Hapusuntuk dosis golongan fenotiazin yg lain yaitu perfenazin adalah sbg berikut
4 mg, 3 kali/hari, sesuaikan dengan respons. maksimal 24 mg/hari. LANSIA: seperempat sampai setengah dosis dewasa. ANAK di bawah 14 tahun tidak dianjurkan.
saya ingin membantu menjawab pertanyaan tata, jadi obat fenotiazine dapat digunakan dengan atau tanpa makanan, biasanya sekali atau dua kali sehari sesuai anjuran dokter
HapusBagaimana efek samping dari penggunaan salah satu turunan fenotiazin?
BalasHapusSalah satu contoh turunan fenotiazin adalah Promethazine dan efek samping dari obat ini yaitu efek sedasi (penenang). Turunan fenotiazin lainnya dapat menyebabkan kantuk dan karenanya dapat mengganggu kemampuan untuk melakukan tugas yang memerlukan kewaspadaan dalam beraktivitas.
Efek sedasinya dihasilkan ketika salah satu turunan fenotiazin berikatan dengan reseptor dopamin, menghambat dpamin berikatan dengan reseptornya sehingga kadar dopamin bebas banyak didalam sirkulasi dan menimbulkan efek sedasi
HapusPertanyaan no.3
BalasHapusAntihistamin atau penghambat H1, bersaing dengan histamin untuk menduduki reseptor, sehingga menghambat respon histamin. Penghambatan H1 disebut juga antagonis histamin. ada 2 tipe reseptor histamin, H1 dan H2, keduanya menyebabkan respon yang berbeda. Bila H1 dirangsang, otot-otot polos ekstravaskuler, termasuk otot-otot yang melapisi rongga hidung akan berkontriksi. Pada perangsangan H2 terjadi peningkatan sekresi gastrik, yang menyebabkan terjadinya tukak lambung.
Antagonis H1 biasanya diabsorbsi dengan baik di saluran cerna. Setelah pemberian oral, kadar puncak plasma dicapai dalam 2-3 jam dan efeknya berakhir 4-6 jam. Walaupun demikian ada beberapa obat yang kerjanya lebih lama, misalnya klemastin, setirizin, terfenadin (12-24 jam), sedangkan astemizol 24 jam. Penelitian yang intensif pada obat pertama terbatas. Defenhidramin yang diberikan per oral mencapai kadar maksimum dalam darah kurang lebih 2 jam dengan waktu paruh 4 jam. Distribusi obat ini luas, termasuk di SSP dan dalam jumlah kecil dijumpai di dalam urine dengan bentuk metabolit. Eliminasi obat ini cepat pada anak dan dapat menginduksi enzim mikrosomal hepatik. Hal ini juga tampaknya sama pada obat generasi I lainnya. Sementara itu, obat generasi II, seperti astemizol, terfenadin, dan loratadin diabsorbsi secara cepat disaluran cerna dan dimetabolisme didalam hati melalui sistem mikrosomal hepatik P450.
DAFTAR PUSTAKA
Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
pertanyaan no 3
BalasHapusObat anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis). Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.
menurut saya farmakodinamik dan farmakokinetika fenotiazin yaitu :
BalasHapusFarmakodinamik : Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ (largactill) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata large action. Sususan Saraf Pusat : CPZ menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emisinal penderita sebelum minum obat. Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat, atau klordiazepoksid. Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal ).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada chemo reseptor trigger zone. Muntah disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler.fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunanya pada pasien epilepsi harus berhati-hati. Otot Rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada daam keadaan spastik. Cara kerjanya relaksasi ini diduga bersifat sentral, sebab sambungan saraf otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ.
Farmakokinetik:
Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalami metabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35% sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg). Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir.
3. Fenotiaxin termasuk kedalam antihistamin tipe 1 (AH1) yang memiliki mekanisme kerja:
BalasHapusAntihistamin tipe H1 bekerja dengan cara competitif inhibitor terhadap histamin pada reseptor jaringan, sehingga mencegah histamin berikatan serta mengaktivasi reseptornya. (Fitzpatrick, Wolverton, Katzung Arndt) Ikatannya reversibel dan dapat digantikan oleh histamin dalam kadar yang tinggi. (Fitzpatrick, Katzung). Dengan menghambat kerja dari histamin, terjadi berbagai pengaruh yang ditimbulkan antihistamin, yaitu menghambat peningkatan permeabilitas kapiler dan edema yang disebabkan oleh histamin serta menghambat vasokonstriksi. Obat ini lebih efektif jika diberikan sebelum pelepasan histamin. Pada pemberian awal, antihistamin dapat mencegah edema dan pruritus selama reaksi hipersensitivitas, sehingga banyak keuntungan yang didapat jika digunakan untuk pencegahan urtikaria kronik idiopatik.Wilkin Antihistamin tipe H1 klasik ini juga memiliki aktivitas antikolinergik, efek anestesi lokal, antiemetik, dan anti mabuk perjalanan.(Fitzpatrick, Goodman and Gillman) Beberapa antihistamin tipe H1 mempunyai kemampuan untuk menghambat reseptor α-adrenergik atau reseptor muskarinik kolinergik, sedangkan obat lain mempunyai efek antiserotonin. (Fitzpatrick)
3. Fenotiazin merupakan obat AH yang mempunyai efek antipsikotik dengan mempengaruhi mekanisme dopaminergik, yaitu dengan bekerja sebagai antagonis pada reseptor dopamin, memblok dopamin seingga tidak dapat berinteraksi dengan reseptor. Pemblokan tersebut terjadi pada pra dan postsinaptik reseptor dopamin sehingga kadar dopamin dalam tubuh meningkat dan menyebabkan terjadinya terjadinya efek antipsikotik.
BalasHapusnmr 3
BalasHapusObat anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis). Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.
no 2
BalasHapussalah satu dosis turunan fenotiazin misalnya chlorpromazin HCl memiliki dosis: 500 mcg/kg bb tiap 6-8jam (15 tahun max 40 mg/hari, 6-12 tahun max 75 mg/hari
saya akan mencoba menjawab soal no. 2
BalasHapusa. Prometazin HCl, (Camergan, Phenergan, Prome), dosis : 25 mg 3dd, 2% (krim)
b. Metdilazin HCl (Tacaryl), dosis : 8 mg 3 dd
c. Mekuitazin (Meviran), dosis : 5 mg 2 dd
d. Oksomemazin (Doxergan), dosis : 10 mg 1-4 dd
e. Isotipendil HCl (Andatol), dosis : 12 mg 2-3 dd, 1% (jeli)
f. Pizotifen hidrogen fumarat, dosis : 0,5 mg 1 dd
Saya membantu menjawab soal no 2
BalasHapus1.jadi obat fenotiazine dapat digunakan dengan atau tanpa makanan, biasanya sekali atau dua kali sehari sesuai anjuran dokter
saya akan menambahkan jawaban no 3
BalasHapusMekanisme Fenotiazin sebagai AGP 1
Fenotiazin termasuk ke dalam Antipsikotik Generasi Pertama (AGP 1)
Kerja APG 1 menurunkan hiperaktivitas dopamine di jalur mesolimbik sehingga menyebabkan gejala positif menurun tetapi ternyata APG 1 tidak hanya memblok reseptor D2 di mesolimbik tetapi ternyata APG 1 tidak hanya memblok reseptor D2 di mesolimbik tetapi juga memblok reseptor D2 di tempat lain seperti di mesokortikal, nigrostriatal, dan tuberofundibular. APG 1 memblok reseptor D2 di jalur mesokortikal dapat memperberat gejala negatif dan kognitif disebabkan penurunan dopamine di jalur tersebut. Blockade reseptor D2 di nigrostiatal secara kronik dengan menggunakan APG 1 menyebabkan gangguan pergerakan hiperkinetik. Blockade reseptor D2 di tuberoinfudibular menyebabkan disfungsi seksual dan peningkatan berat badan
saya akan menambahkan Efek samping dari turunan fenotiazin salah satunya chlorpromazin. obat ini mempunyai banyak ES yaitu Berkedut atau gerakan tak terkendali dari mata, bibir, lidah, wajah, lengan, atau kaki, Tremor (gemetar tak terkendali), air liur, kesulitan menelan, masalah dengan keseimbangan atau berjalan, Merasa gelisah, Perasaan seperti Anda akan pingsan, Kejang (blackout atau kejang), Mual sakit perut bagian atas, gatal,
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan no 2.
BalasHapussalahsatu obat golongan fenotiazin adalah flufenazin adapun dosis yang baik untuk golongan obat ini adalah :
Standar dosis psikosis Oral: Dosis awal: 0.5 sampai 10 mg/hari secara oral dalam dosis terbagi setiap 6 sampai 8 jam.
Parenteral: Dosis awal: 2.5 sampai 10 mg/hari IM dibagi setiap 6 sampai 8 jam (2.5 mg/mL).
4. efek samping cpz: Berat badan bertambah, bengkak di tangan atau kaki.
BalasHapusMulut kering atau hidung tersumbat, penglihatan kabur.
Saya akan membantu menjawab pertanyaan no 3
BalasHapusmekanisme kerja fenotiazin sebagai antihistamin yaitu:
Mengeblok kerja histamin pada reseptornya. Berkompetisi dengan histamin untuk mengikat reseptor yang masih kosong. Jika histamin sudah terikat, antihistamin tidak bisa memindahkan histamin. Pengikatan AH1 mencegah efek merugikan akibat stimulasi histamin seperti vasodilatasi, peningkatan sekret gastrointestinal dan respirasi serta peningkatan permeabilitas kapiler. Interaksi histamin dengan reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vascular dan meningkatkan sekresi mucus. Interaksi dengan reseptor H1 juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini diblok oleh antagonis H1.
hai tata, saya akan membantu menjawab pertanyaan no 4. menurut sumber yang baca, beberapa efek samping dari turunan fenotiazin adalah hipotensi, ikterus, dermatitis dan leukopenia. Reaksi ini disertai eosinofilia dalam darah perifer.
BalasHapusFenotiazin
BalasHapusFarmakodinamik : Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ (largactill) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata large action. Sususan Saraf Pusat : CPZ menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emisinal penderita sebelum minum obat. Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat, atau klordiazepoksid. Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal ).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada chemo reseptor trigger zone. Muntah disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler.fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunanya pada pasien epilepsi harus berhati-hati. Otot Rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada daam keadaan spastik. Cara kerjanya relaksasi ini diduga bersifat sentral, sebab sambungan saraf otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ.
Farmakokinetik:
Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalamimetabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35%sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg).Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir.
Mekanisme kerja:
Obat anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis). Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.
4. salah satu efek samping antihistamin (fenotiazin )adalah mengantuk,
BalasHapusefek samping
BalasHapuslelah, sakit kepala, somnolensia,. Mulut kering, gangguan pencernaan nausea, gastritis, dan alergi
pertanyaan no 2
BalasHapussalah satu dosis turunan fenotiazin misalnya chlorpromazin HCl memiliki dosis: 500 mcg/kg bb tiap 6-8jam (15 tahun max 40 mg/hari, 6-12 tahun max 75 mg/hari
menurut saya efek dari fenotiazin menyebabkan reaksi distonia akut yang meliputi spasme otot fasial dan skeletal serta krisis okulogirik. Efek ini lebih lazim terjadi pada usia muda (wanita muda dan remaja putri) serta lansia.
BalasHapusMengeblok kerja histamin pada reseptornya. Berkompetisi dengan histamin untuk mengikat reseptor yang masih kosong. Jika histamin sudah terikat, antihistamin tidak bisa memindahkan histamin. Pengikatan AH1 mencegah efek merugikan akibat stimulasi histamin seperti vasodilatasi, peningkatan sekret gastrointestinal dan respirasi serta peningkatan permeabilitas kapiler. Interaksi histamin dengan reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vascular dan meningkatkan sekresi mucus. Interaksi dengan reseptor H1 juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini diblok oleh antagonis H1.
BalasHapuspenjelasan yang bagus, bahwa interaksi histamin dgn reseptor dpt menimbulkan kontraksi otot, hal ini sesuai dgn literatur yg saya baca
HapusFarmakodinamik : Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ (largactill) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata large action. Sususan Saraf Pusat : CPZ menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emisinal penderita sebelum minum obat. Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat, atau klordiazepoksid. Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal ).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada chemo reseptor trigger zone. Muntah disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler.fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunanya pada pasien epilepsi harus berhati-hati. Otot Rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada daam keadaan spastik. Cara kerjanya relaksasi ini diduga bersifat sentral, sebab sambungan saraf otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ.
BalasHapusFarmakokinetik:
Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalamimetabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35%sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg).Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir.
Mekanisme kerja:
Obat anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis). Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.