Kamis, 12 Oktober 2017

ANALGETIK


ANALGETIK
Definisi nyeri
Nyeri dapat didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan. Baik nyeri akut maupun kronis merupakan fungsi pertahanan (survival function), yaitu dengan cara mengarahkan tubuh untuk memberikan refleks dan sikap protektif terhadap jaringan yang rusak sehingga sembuh.Nyeri timbul bila mana jaringan sedang tertusuk (Guyton, 2007) .
Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan kimiawi, mekanis, kalor dan listrik, yang dapat mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan mediator-mediator nyeri. Mediator-mediator penting yang terlibat pada proses terjadinya nyeri adalah histamin, serotonin (5-HT), plasmakinin (antara lain bradikinin) dan prostaglandin. Senyawa-senyawa ini kemudian akan merangsang reseptor nyeri (nosiseptor) yang terletak pada ujung-ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir, dan jaringan-jaringan (organ-organ) lain (Tjay dan Rahardja, 2007).
Mekanisme terjadiya nyeri
1. Proses Transduksi

Proses dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung saraf. Suatu stimuli kuat (noxion stimuli) seperti tekanan fisik kimia, suhu dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf perifer (nerve ending) atau organ-organ tubuh (reseptor meisneri, merkel, corpusculum paccini, golgi mazoni). Kerusakan jaringan karena trauma baik trauma pembedahan atau trauma lainnya menyebabkan sintesa prostaglandin, dimana prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptor-reseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin, serotonin yang akan menimbulkan sensasi nyeri. Keadaan ini dikenal sebagai sensitisasi perifer.

2. Proses Transmisi

Proses penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi melalui serabut A-delta dan serabut C dari perifer ke medulla spinalis, dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh tractus spinothalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis. Traktus spinoretikularis terutama membawa rangsangan dari organ-organ yang lebih dalam dan viseral serta berhubungan dengan nyeri yang lebih difus dan melibatkan emosi. Selain itu juga serabut-serabut saraf disini mempunyai sinaps interneuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan bermielin. Selanjutnya impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di cortex cerebri dan dirasakan sebagai persepsi nyeri.

3. Proses Modulasi

Proses perubahan transmisi nyeri yang terjadi disusunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak). Proses terjadinya interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis merupakan proses ascenden yang dikontrol oleh otak. Analgesik endogen (enkefalin, endorphin, serotonin, noradrenalin) dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Dimana kornu posterior sebagai pintu dapat terbuka dan tertutup untuk menyalurkan impuls nyeri untuk analgesik endogen tersebut. Inilah yang menyebabkan persepsi nyeri sangat subjektif pada setiap orang.
Mengatasi nyeri dengan obat
Untuk mengatasi nyeri dengan obat, terdapat beberapa jalur yang kemungkinan dapat ditempuh antara lain sebagai berikut (Mutschler, 1991) :
1) Mencegah stabilisasi reseptor nyeri dengan cara penghambatan sintesis prostaglandin
    dengan analgetika yang bekerja secara perifer.
2) Mencegah pembentukan rangsang dalam reseptor nyeri dengan memakai anestesi 
    permukaan atau anestesi infiltasi.
3) Menghambat penghantaran rangsang dalam serabut saraf sensorik dengan anestesi
    konduksi.
4) Meringankan atau meniadakan nyeri melalui kerja dalam sistem saraf pusat atau dengan
    obat narkosis.
5) Mempengaruhi pengalaman nyeri dengan psikofarmaka (transkuilisia, neuroleptika,
    antidepresan).
Analgetika
Analgetika atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (perbedaan dengan anestetika umum) (Tjay dan Rahardja, 2007).
Menurut Tjay dan Rahardja (2007), Atas dasar kerja farmakologisnya, analgetika dibagi dalam dua kelompok besar, yakni :
A. Analgetika narkotik
Zat-zat ini bekerja terhadap reseptor opioid khas di SSP, hingga persepsi nyeri dan respons emosional terhadap nyeri berubah (dikurangi). Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti pada fractura dan kanker.
Senyawa-senyawa golongan ini memiliki daya analgetik yang kuat sekali dengan titik kerja di susunan saraf pusat. Analgetik jenis ini umumnya mengurangi kesadaran (sifat yang meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia), mengakibatkan toleransi dan habituasi, ketergantungan fisik dan psikis dengan gejala-gejala abstinensi bilapenggunaan dihentikan (Tjay dan Rahardja, 2007).
Mekanisme kerja utamanya ialah dalam menghambat enzim sikloogsigenase dalam pembentukan prostaglandin yang dikaitkan dengan kerja analgesiknya dan efek sampingnya. Kebanyakan analgesik OAINS diduga bekerja diperifer . Efek  analgesiknya telah kelihatan dalam waktu satu jam setelah pemberian per-oral. Sementara efek antiinflamasi OAINS telah tampak dalam waktu satu-dua minggu pemberian, sedangkan efek maksimalnya timbul berpariasi dari 1-4 minggu. Setelah pemberiannya peroral, kadar puncaknya NSAID didalam darah dicapai dalam waktu 1-3 jam setelah pemberian, penyerapannya umumnya tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Volume distribusinya relatif kecil (< 0.2 L/kg) dan mempunyai ikatan dengan protein plasma yang tinggi biasanya (>95%). Waktu paruh eliminasinya untuk golongan derivat arylalkanot sekitar 2-5 jam, sementara waktu paruh indometasin sangat berpariasi diantara individu yang menggunakannya, sedangkan piroksikam mempunyai waktu paruh paling panjang (45 jam).
Berdasarkan mekanisme kerjanya, analgetika narkotik dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu (Tjay dan Rahardja, 2007):
1) Agonis opiat, dapat menghilangkan rasa nyeri dengan cara mengikat reseptor opioid pada
    sistem saraf. Contoh: morfin, kodein, heroin, metadon, petidin, dan tramadol.
2) Antagonis opiat, bekerja dengan menduduki salah satu reseptor opioid pada sistem saraf.
    Contoh: nalokson, nalorfin, pentazosin, buprenorfin dan nalbufin.
3) Kombinasi, berkerja dengan mengikat reseptor opioid, tetapi tidak mengaktivasi kerjanya  
    dengan sempurna.
            Morfin
Ikatan antara bagian struktur morphin dan reseptor
Mekanisme kerja analgesik dengan pengikatan obat dengan sisi reseptor khas pada sel dalam otak dan spinal cord.
Struktur  yang memiliki peran penting dalam analgesik (dalam  morfin) : 
  • Struktur bidang datar yang mengikat cincin aromatik obat melalui ikatan van der wall.
  • Tempat anionik yang berinteraksi dengan pusat muatan positif obat.
  • Lubang yang sesuai untuk –CH2-CH2- dari proyeksi cincin piperidin.
Hubungan Struktur Aktifitas Turunan Morfin

Hubungan Struktur Aktifitas Turunan Morfin :

Eterifikasi dan esterifikasi gugus hidroksil fenol akan menurunkan aktivitas analgesik
Eterifikasi, esterifikasi, oksidasi atau penggantian gugus hidroksil alkohol dengan halogen
  atau hidrogen dapat meningkatkan aktivitas analgesik perubahan gugus hidroksil alkohol
  dari posisi 6 ke posisi 8 menurunkan aktivitas analgesik.
Pengubahan konfigurasi hidroksil pada C6 dapat meningkatkan aktivitas analgesik
Hidrogenasi ikatan rangkap C7-C8 dapat menghasilkan efek yang sama atau lebih tinggi
Substansi pada cincin aromatik akan mengurangi aktivitas analgesik
Pemecahan jembatan eter antara C4 dan C5 menurunkan aktivitas
Pembukaan cincin piperidin menyebabkan penurunan aktivitas

B. Analgetika perifer (non-narkotik)
Obat-obat ini sering disebut golongan obat analgetika-antipiretik atau Non Steroidal Anti-Inflamatory Drugs (NSAID) (Siswandono dan Soekardjo, 1995). Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Zat-zat  yang meringankan atau menghilangkan rasa nyeri tanpa mempengaruhi SSP atau menurunkan kesadaran, juga tidak menimbulkan ketagihan. Kebanyakan zat ini juga berdaya antipiretis dan atau antiradang.
Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri. Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan dosis besar.
Obat-obat golongan analgetika ini dapat dibagi menjadi 4 kelompok yaitu :
1).Golongan salisilat : natrium salisilat, asetosal, salisilamid, dan benorilat.
2).Turunan p-aminofenol : fenasetin dan parasetamol.
3).Turunan pirazolon : antipirin, aminofenol, dipiron, dan asam difluminat
4).Turunan antranilat : glafenin, asam mefenamat, dan asam difluminat
(Tjay dan Rahardja, 2002)
Paracetamol
Parasetamol mempunyai aktivitas sebagai analgetik dan antipiretik dengan sedikit efek anti-inflamasi. Parasetamol bekerja dengan jalan menghambat sintesis prostaglandin pada susunan saraf pusat. Hal ini menerangkan efek analgetik dan antipiretiknya. Efeknya kurang terhadap siklooksigenase perifer, yang mengakibatkan aktivitas anti-inflamasinya lemah. Parasetamol memiliki rumus struktur seperti terlihat pada gambar di bawah ini:
Parasetamol cepat diabsorpsi dalam saluran cerana. Metabolisme lintas pertama yang bermakana terjadi pada sel lumen usus dan hepatosit. Pada kondisi normal, parasetamol dikonjugasi di hati menjadi bentuk glukoronida atau metabolit sulfat yang tidak aktif. Parasetamol dan metabolitnya diekskresikan ke dalam urin. Parasetamol dimetabolisme di hati melalui reaksi fase II (reaksi konjugasi glukoronidasi dan sulfatasi) dengan persentase metabolisme 60-90% yang lebih besar pada fase ini dibandingkan pada fase I (enzim sitokrom P-450, isoenzim CYP2E1).

Diskusikan!
1. Bagaimana jika seseorang meminum obat analgetik tanpa aturan dosis yang tepat?
2.Sekresi obat analgetik melalui urine. Untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal sebaiknya menggunakan obat analgesik seperti apa?
3.Apakah pemakain obat analgetik dalam jangka panjang diperbolehkan ? Apa ada kemungkinan menimbulkan efek ketergantungan pada analgetik non narkotik ?
4. Bagaimana cara memilih obat analgetik yang tepat dalam menyembuhkan berbagai jenis nyeri ?
5. Apa perbedaan antara analgetik dan anestesi dari segi menghilangkan rasa nyeri?



Daftar Pustaka
Guyton, C., A. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: EGC.
Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat. Penerbit ITB,Bandung.
Siswandono dan Soekardjo.1995. Kimia Medisinal. Surabaya: Airlangga University Press.
Tjay,Tan Hoan dan K. Rahardja. 2007.Obat-obat Penting. Jakarta: PT Gramedia.



10 komentar:

  1. Bagaimana aktivitas Turunan p-aminofenol jika ditinjau dari strukturnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah saya menemukan teori ini kak, selain menjawab untuk p-aminofenol juga ada sedikit menambahankan mengenai anilin. Semoga bermanfaat:)
      Menurut Siswandono dan Soekardjo (2008) Turunan Anilin dan para-Aminofenol memiliki hubungan struktur-aktivitas
      1.)Anilin mempunyai efek antipiretik cukup tinggi tetapi toksisitasnya juga besar karena menimbulkan methemoglobin, suatu bentuk hemoglobin yangtidak dapat berfungsi sebagai pembawa oksigen.
      2.)substitusi pada gugus amino mengurangi sifat kebasaan dan dapatmenurunkan aktivitas dan toksisitasnya. Asetilasi gugus amino (asetanilid)dapat menurunkan toksisitasnya, pada dosis terapi relatif aman tetapi pada dosisyang lebih besar menyebabkan pembentukan methemoglobin danmempengaruhi jantung. Homolog yang lebih tinggi dari asetanilid mempunyaikelarutan dalam air sangat rendah sehingga efek analgesik dan antipiretiknya juga rendah.
      3.) Turunan aromatik dari asetanilid, seperti benzenanilid, sukar larut dalam air,tidak dapat dibawa oleh cairan tubuh ke reseptor sehingga tidak menimbulkanefek analgesik, sedang salisilanilid sendiri walaupun tidak mempunyai efek analgesik tetapi dapat digunakan sebagai antijamur
      4.) Para-aminifenol adalah produk metabolic dari anilin, toksisitasnya lebihrendah disbanding anilin dan turunan orto dan meta, tetapi masih terlalu toksik untuk langsung digunakan sebagai oat sehingga perlu dilakukan modifikasistruktur untuk mengurangi toksisitasnya
      5.) Asetilasi gugus amino dari para-aminofenol (asetaminofen) akanmenurunkan toksisitasnya, pada dosis terapi relatif aman tetapi pada dosis yanglebih besar dan pada pemakaian jangka panjang dapat menyebabkanmethemoglobin dan kerusakan hati
      6.) Eterifikasi gugus hidroksi dari para-aminofenol dengan gugus metil(anisidin) dan etil (fenetidin) meningkatkan aktivitas analgesik tetapi karenamengandung gugus amino bebas maka pembentukan methemoglobin akanmeningkat
      7.) Pemasukan gugus yang bersifat polar, seperti gugus karboksilat dansulfonat, ke inti benzene akan menghilangkan aktivitas analgesik.
      8.) Etil eter dari asetaminofen (fenasentin) mempunyai aktivitas analgesik cukup tinggi, tetapi pada penggunaan jangka panjang menyebabkanmethemoglobin, kerusakan ginjal dan bersifat karsinogenik sehingga obat inidilarang di Indonesia
      9.) Ester salisil dari asetaminofen (fenetsal) dapat mengurangi toksisitas danmeningkatkan aktivitas analgesik.

      Hapus
  2. Haa mbak saya mau coba jawab pertnyaan no 4. Menurut saya,Bergantung pada jenis nyeri yang dirasakan. Apabila digunakan untuk nyeri ringan seperti sakit gigi, nyeri saat haid dan sebagainya dapat menggunakan golongan analgetik perifer, sementara untuk rasa nyeri yang lebih berat dapat meggunakan obat dengan golonga analgetik narkotik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya ingin menambahkan yaitu sebaiknya kenali dahulu bagaimana sifat dari beberapa analgesika yang terdapat dalam obat-obat pereda rasa sakit yang banyak dijual bebas

      Hapus
  3. Saya akan membantu menjawab pertanyaan no 2
    Ginjal merupakan salah satu organ terpenting pada tubuh. Sebagian besar obat dieksresikan melalui ginjal berupa urin. Apabila seseorang mengalami gangguan fungsi ginjal, maka esekresi obat tidak terjadi sepenuhnya, akibatnya masih banyak obat beredar didalam tubuh,dan apabila dilakukan konsumsi obat kembali maka kadar obat bebas pada tubuh akan meningkat dan menyebabkan efek obat meningkat hingga memungkinkan terjadinya toksik. Oleh karena itu, dalam konsumsi obat apapun yang memiliki khasiat analgetik alangkah baikya jika diukur penggunaan dosis yang diberikan dengan kemampuan ginjal untuk mengeksresikan obat dalam bentuk urin. Dalam hal ini diperukan kerja sama antara dokter dan apoteker.

    BalasHapus
  4. saya akan menjawab pertanyaan no.5 perbedaan antara anastesi dan analgetik yaitu, Pada obat Analgesik,penghilangan nyeri tidak menghilangkan persepsi sensori seperti rabaan, tekanan dan suhu masih terasa. Berbeda dengan Anestetik yang menghilangkan sensor tersebut dalam arti mati rasa sementara.

    BalasHapus
  5. pemilihan anlgetik disesuaikan dengan tingkat keparahan nyeri

    BalasHapus
  6. no 3. tentu saja tidak di perbolehkan mengkonsumsi analgetik dalam jangka panjang, karena akan mengakibatkan kerusakan hati

    BalasHapus
  7. cara memilih obat analgetik yang tepat dalam menyembuhkan berbagai jenis nyeri berdasarkan Prinsip penatalaksanaan nyeri
    Pengobatan nyeri harus dimulai dengan analgesik yang paling ringan sampai ke yang paling kuat

    Tahapannya:
    Tahap I : analgesik non-opiat : AINS
    Tahap II : analgesik AINS + ajuvan (antidepresan)
    Tahap III : analgesik opiat lemah + AINS + ajuvan
    Tahap IV : analgesik opiat kuat + AINS + ajuvan

    Contoh ajuvan : antidepresan, antikonvulsan, agonis α2, dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. selain itu pemilihn analgetik harusla berdasarkan gejala yang dalami oleh pasien

      Hapus